Bisakah Letusan Gunung Berapi Mengubah Cuaca? Berikut Penjelasannya

Bencana alam bisa terjadi kapan saja, termasuk letusan Gunung berapi yang tak bisa diprediksi. Letusan Gunung Berapi adalah proses keluarnya magma dari ruang magma dalam perut gunung berapi, akibat aktifitas magma dan pergerakan lempeng tektonik. Gunung Berapi secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem saluran fluida yang terdiri atas batuan cair bersuhu tinggi yang memiliki struktur memanjang dari kedalaman lapisan atmosfer kurang lebih 10 km hingga permukaan bumi.

Gunung berapi juga memiliki kumpulan endapan material yang keluar saat terjadinya letusan. Material tersebut meliputi abu dan batuan dengan berbagai ukuran. Secara umum letusan gunung dapat dibagi menjadi tiga kategori. Yang pertaman, yakni Erupsi magma yang disebabkan tekanan gas di dalam perut bumi.

Dan yang kedua, Letusan Freatomagma atau hidrovulkanik terjadi akibat adanya kontak antara magma dengan air bawah permukaan atau formasi batuan yang banyak mengandung air menghasilkan abu dan material vulkanik halus. Erupsi ini dicirikan dengan semburan abu vulkanik yang kadang kala diselingi oleh suara gemuruh dan dentuman. Terakhir, Letusan freatik adalah erupsi yang disebabkan adanya kontak air dengan magma.

Bedanya dengan erupsi freatomagma, erupsi freatik sebagian besar terdiri dari gas atau uap air. Letusan gunung berapi akan mengeluarkan gas sulfur, gas tersebut kemudian akan berubah menjadi aerosol sulfat. Cairan tersebut merupakan cairan mikroskopik yang mengandung 75 % asam sulfat yang dapat mengendap pada lapisan stratosfer selama tiga atau empat tahun lamanya.

Tim peneliti memaparkan bahwa letusan besar cenderung menyebabkan seringnya cuaca panas di banyak wilayah di Asia Tengah, namun bisa meningkatkan intensitas hujan di Asia Tenggara, diantaranya Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand dan Myanmar. Aktivitas gunung berapi bisa menjadi pemain penting dalam perubahan iklim.

Dampak Letusan Gunung Berapi Terhadap Cuaca

Gunung berapi seperti cerobong asap yang menyalurkan batu cair panas, yang disebut magma, mengalir dari lapisan di dalam Bumi dan meletus ke permukaan. Magma bisa berasal dari lapisan sejauh 200 kilometer di dalam Bumi dan sekalinya meletus pada suhu panas 700 sampai 1.200 derajat Celsius dan disebut lahar.

Saat magma naik berkilo-kilometer ke permukaan bumi, gas terlarut yang terkandung di dalamnya membentuk gelembung yang luas. Gelembung ini meningkatkan tekanan magma dan jika tekanan ini cukup besar, gunung berapi akan meletus. Jumlah, suhu dan komposisi magma, termasuk jumlah gas terperangkap yang terkandung di dalamnya, menentukan jenis gunung api yang terbentuk.

Namun, pertanyaannya mengapa Letusan Gunung Berapi dapat mengubah cuaca? Berdasarkan penelitian para ahli dari satelit riset atmosfer NASA (UARS), walaupun aktivitas vulkanik hanya berlangsung beberapa hari, sisa material seperti gas dan abu mengendap bertahun-tahun di lapisan atmosmer dan berdampak pada perubahan iklim di bumi. Gas sulfur yang berasal dari letusan gunung berapi berubah menjadi aerosol sulfat, cairan mikroskopik yang mengandung 75 % asam sulfat.

Pasca Letusan, partikel aerosol itu mengendap di lapisan stratosfer selama tiga atau empat tahun. Georgiy Stenchikov, seorang peneliti dari departemen ilmu lingkungan hidup Rutgers University mengatakan bahwa Letusan gunung berapi bisa memicu perubahan iklim sementara dan berkontribusi terhadap variabilitas iklim yang sudah ada.

Statistik perubahan cuaca terhadap waktu digunakan untuk mengidentifikasi adanya perubahan iklim. Meskipun cuaca dan iklim terkait erat, terdapat perbedaan-perbedaan penting. Cuaca memiliki perilaku chaotik yang membuatnya tidak dapat diprediksi setelah beberapa hari ke depan.

Proyeksi perubahan iklim (yakni cuaca rata-rata jangka panjang) akibat perubahan komposisi atmosfer atau akibat faktor-faktor lain adalah hal yang sangat berbeda dan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Karena kesimpulannya tentang adanya perubahan iklim diperoleh berdasarkan statistik cuaca, contohnya yang sekarang ini yaitu letusan gunung merapi, yang debu vulkaniknya merupakan salah satu penyebabnya perubahan cuaca lokal di daerah letusan gunung merapi dan sekitarnya.

Kalau dilihat dari gejala fisis atmosfernya yang terjadi akibat letusan gunung merapi yang mengeluarkan atau memuntahkan awan panas yang mana dapat menyebabkan suhu di daerah gunung merapi meningkat dengan demikian. Tekanan didaerah letusan merapi menurun atau rendah, yang mana kelembaban (RH) juga menurun sehingga bersifat kering.

Para ilmuwan mempelajari lingkaran pada pohon untuk memperagakan ulang masa lalu tentang dampak letusan gunung berapi. Hasilnya sebagian besar letusan vulkanik dapat meningkatkan curah hujan di Asia Tenggara sehingga menantang persepsi umum bahwa gunung berapi sebagai bencana penghancuran. Keterkaitan perubahan iklim dan cuaca secara implisit dapat disimpulkan dari definisi iklim yang umumnya diartikan sebagai cuaca rata-rata.

Para ilmuan telah lama mengetahui bahwa ledakan besar gunung berapi bisa berdampak pada cuaca, lewat semburan partikel-partikel vulkanik yang menghalangi matahari dan mendinginkan udara. Dan para peneliti di Pusat Pengamatan Bumi Lamont Doherty di Universitas Columbia di Amerika Serikat ingin meneliti beberapa dampak pada musim di Asia karena hujan merupakan hal yang penting bagi tumbuhan dan kehidupan miliaran manusia.

Upaya tunggal untuk mengetahuinya adalah dengan melihat ke masa lalu. Mereka mempelajari pertumbuhan lingkaran dari pepohonan yang umurnya telah beberapa abad dari sekitar 300 kawasan di penjuru Asia, demikian menurut sebuah penelitian yang disiarkan oleh edisi jurnal Geophysical Research Letters di dalam jaringan.

Mereka meneliti sejumlah dampak pada curah hujan dari kebanyakan 54 letusan pada 800 tahun lalu dengan mengukur pengaruh pertumbuhan pepohonan. Pertumbuhan lingkaran yang kecil dan tipis menunjukkan curah hujan yang kecil dan jika hal itu sebaliknya maka menunjukkan curah hujan yang besar.

Lingkaran pohon menunjukkan di kawasan besar China Selatan, Mongolia dan daerah sekitarnya, secara tetap masih kering dalam satu atau dua tahun setelah letusan besar gunung berapi, sementara daratan Asia Tenggara mendapatkan curah hujan lebih banyak. Letusan gunung berapi menyebarkan kandungan belerang yang berubah menjadi partikel sulfat mikroskopis di atmosfir yang tinggi sehingga membiaskan cahaya matahari mempengaruhi pendinginan suhu udara di bumi dapat bertahan selama beberapa bulan ataupun tahun.

Perubahan iklim yang disebabkan manusia telah terjadinya perubahan global yakni konsentrasi gas-gas rumah kaca didalam atmosfer. Tetapi juga dipengaruhi oleh adanya perubahan konsentrasi partikel-partikel kecil aerosol salah satu contohnya yang sekarang ini yaitu debu vulkanik yang telah bercampur di dalam lapisan troposfer bumi yang mana dapat mengubah pola dan sistem cuaca yang berkelanjutan berdampak kepada iklim juga.

Perubahan iklim menyebabkan terjadinya kondisi-kondisi cuaca tertentu, termasuk cuaca ekstrem. Proses Penelitian lebih lanjut banyak sekali dilakukan oleh para peneliti atau ilmuwan dari berbagai negara berkembang untuk mendapat hasil yang lebih akurat sehingga masyarakat dapat menerima informasi yang baik dan benar.

Planet Bumi berisi ratusan gunung berapi, banyak di antaranya akan meletus pada saat yang bersamaan. Banyak dari kita yang pastinya sangat berwaspada pada gunung berapi ini. Setiap bencana alam pasti membawa dampak tersendiri yang dirasakan oleh penduduk yang berada disekitar bencana. Biasanya bencana alam identik dengan dampak negatif namun tidak semua dampak negatif saja yang dapat dirasakan warga sekitar, namun terdapat dampak postif pada letusan gunung berapi ini.

Nah, pada saat terjadi letusan, banyak batu batu berbagai ukuran yang dimuntahkan gunung yang mana dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai bahan bagunan. Besarnya volume material vulkanik selama letusan berlangsung ternyata membawa berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar karena memiliki profesi baru yakni sebagai penambang pasir.

Tanah tanah sekitar gunung yang terkena material letusan akan semakin subur, tentu saja hal ini sangat menguntungkan para petani dimana mereka tidak perlu mengeluarkan biaya lagi untuk membeli pupuk. Setelah gunung meletus, biasanya muncul mata air makdani yaitu mata air yang kaya dengan kandungan mineral.

Selain itu muncul pula sumber air panas (geyser) baru secara bertahap dan periodik, hal ini tentu saja dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kesehatan kulit. Pada wilayah yang sering terjadi letusan gunung berapi sangat potensial untuk dijadikan pembangkit listrik, tenaga panas bumi yang tentu saja bernilai ekonomis. Maka dari itu demikianlah informasi mengenai gunung berapi, sampai ketemu di artikel selanjutnya.

Author: Virgil Howell

Leave a Reply

Your email address will not be published.